Desa Penglipuran, Terbuai Suasana Khas Bali Di Desa Adat

  • 17 Juli 2017
Desa Penglipuran, Terbuai Suasana Khas Bali di Desa Adat
Berjarak sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Denpasar, Desa Penglipuran menawarkan kearifan lokal yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Bali. Memasuki desa adat ini kamu akan disambut dengan deretan rumah adat yang tertata rapi lengkap dengan penjor yang menggantung di tiap-tiap rumah. Di desa ini kamu akan melihat Bali yang sebenar-benarnya.
 
Udara sejuk pegunungan menyambut saat tiba di kawasan Desa Penglipuran. Berada pada ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut (mdpl), desa adat ini tak hanya terkenal akan nuansa tradisinya, akan tetapi juga dikenal karena keasrian, kesejukan, dan kebersihan lingkungan desa. Selain itu, keramahan penduduknya pun menjadi pelengkap perjalanan bagi siapapun yang berkunjung ke desa tradisional yang eksotik ini.
 
Berdasarkan cerita penduduk, Desa Penglipuran telah ada sejak lebih dari 700 tahun silam atau tepatnya pada masa Kerajaan Bangli. Dimana dahulu Desa Penglipuran ini menjadi sebuah tempat peristirahatan bagi para raja-raja Bali yang ingin mendapati suasana tenang dan damai.
 
Memang cocok sekali dengan namanya “Penglipuran” yang memiliki arti penghibur. Serta jika dilihat dari asal muasal namanya, “Pengeling Pura” adalah tempat suci untuk mengenang para leluhur.
 
Oleh sebab itu, Desa Penglipuran menjadi satu dari sejumlah desa adat di Pulau Bali yang masih memegang teguh adat dan budaya Bali. Hal tersebut dapat dilihat dari kehidupan sehari-hari para penduduknya yang hingga saat ini masih kuat menjaga tradisi, ritual adat, dan berbagai kearifan lokal lainnya.
 
Karena kekhasan dan keunikan yang dimilikinya, Desa Penglipuran menjadi salah satu desa wisata primadona bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara. Desa adat seluas 112 hektar ini merupakan kawasan pedesaan yang memiliki tata ruang dan arsitektur yang ramah lingkungan. Suasana di dalam desa terada sangat sejuk dan asri, hal ini dikarenakan tidak ada kendaraan bermotor yang boleh melewati jalan desa.
 
Konsep tata ruang pemukiman adat di Desa Penglipuran menganut prinsip trimandala. Konsep tersebut secara fungsi dan tingkat kesuciannya terbagi ke dalam tiga ruang yang berbeda yakni ruang utama, madya, dan nista. Letak ketiga ruang ini membujur dari sisi utara yang melambangkan elemen gunung hingga ke sisi selatan yang melambangkan elemen laut. Di tengah-tengahnya terbentang jalan desa yang lurus berundak sebagai poros tengah yang membelah ruang madya.
 
Tepat di ujung sisi utara berdiri sebuah bangunan suci berupa Pura Penataran sebagai tempat ibadah bagi para penduduk. Sedangkan ruang madya berisi puluhan rumah penduduk dengan gaya arsitektur khas Bali yang terbagi ke dalam dua jajaran, yaitu sisi barat sebanyak 38 rumah dan timur sebanyak 38 rumah. Jalan desa sebagai pemisah di tengahnya dibangun menggunakan batu sikat dan dipertahankan bebas dari kendaraan bermotor. Sedangkan di sisi selatan adalah ruang nista mandala atau tempat bagi para manusia yang telah meninggal alias areal pemakaman.
 
Tak jauh dari Pura Penataran yang berada di ujung utara Desa Penglipuran terdapat kompleks hutan bambu yang rindang dan sunyi. Pengunjung diperbolehkan memasuki hutan adat tersebut dengan syarat tidak boleh menebang pohon tanpa seizin dari tokoh adat setempat. Selain itu, tradisi unik di Desa Penglipuran yang masih ada hingga saat ini adalah larangan bagi pria untuk melakukan poligami. Hal tersebut sebagai wujud penghormatan pada wanita. Jika ada yang melanggar, maka orang tersebut harus pindah ke sebuah tempat keramat yang sunyi dan tak berpenghuni bernama ‘Karang Memadu’ di sebelah selatan Desa Penglipuran.
 
Gaya arsitektur rumah-rumah penduduk di Desa Penglipuran ini tampak seragam. Rumah-rumah tersebut dilengkapi dengan gapura dan biasanya tidak sedikit anjing ras kintamani di depannya. Di dalam kompleks rumah selalu ada pura kecil sebagai tempat sembahyang bagi pemilik rumah. Selain itu ada juga lumbung dan balai sebagai tempat untuk menjamu tamu atau wisatawan yang singgah. Beberapa diantaranya juga telah beralih fungsi menjadi kedai dan warung sebagai ruang bagi pengunjung untuk beristirahat sambil berselaras dengan suasana desa yang asri.
 
Konsep penataan yang ada di Desa Penglipuran ini tak lepas dari tradisi dan budaya yang secara turun temurun dipegang teguh oleh masyarakat setempat. Kombinasi gaya arsitektur pemukiman adat Bali dan ruang terbuka yang telah dibentuk oleh masyarakat adat Desa Penglipuran sejak dahulu membuat suasana desa khas Bali makin kental dan nyaman sebagai tempat untuk berkontemplasi dengan lingkungan asri yang ada di desa adat ini.
 
Sumber : https://www.maioloo.com/tempat-wisata/bali/desa-penglipuran/
  • 17 Juli 2017

Artikel Lainnya

Cari Artikel